Di sebuah sudut Kampung Tanjung, RT 03 RW 05 Dusun 2, Desa Tanjungkarya, Kecamatan Samarang, Garut, tumbuh sebuah usaha rumahan yang mulai mencuri perhatian banyak kalangan. Usaha tersebut adalah home industry kerupuk lanting milik Ibu Ai Eli (45 tahun), yang telah dirintis selama 8 bulan terakhir.
Kerupuk lanting yang biasanya dikenal sebagai camilan khas dari luar daerah, kini hadir dalam sentuhan rasa yang lebih kekinian agar bisa dinikmati oleh semua kalangan, khususnya generasi muda. “Saya ingin camilan tradisional ini tidak hanya disukai orang tua, tapi juga anak-anak muda,” ujar Ibu Ai.
Setiap harinya, usaha rumahan ini memproduksi kerupuk lanting dari 20 kg singkong yang kemudian menghasilkan sekitar 5 kg kerupuk lanting siap jual. Dari 1 kg adonan, bisa dihasilkan hingga 32 kemasan kerupuk.
Proses Produksi Masih Manual, Dibantu Keluarga
Proses pembuatannya cukup panjang namun tetap mempertahankan kualitas dan rasa. Dimulai dari pengupasan kulit singkong, lalu dikukus, kemudian ditumbuk agar lembut. Setelah itu, adonan dibentuk bulat menyerupai cincin, kemudian dijemur, dan terakhir digoreng hingga renyah. Semua proses ini masih dilakukan secara manual, dengan bantuan dari anggota keluarga Ibu Ai.
Kerupuk lanting produksi Ibu Ai tersedia dalam dua varian rasa yaitu original dan pedas, dan rencananya akan segera ditambah varian lainnya untuk menjangkau lebih banyak selera. Ciri khas dari kerupuk ini adalah rasanya yang gurih, mengenyangkan, dan cocok dijadikan camilan kapan saja, terutama bagi anak muda yang suka ngemil.
Harga Terjangkau, Pemasaran ke Sekolah dan Kantin
Kerupuk lanting ini dijual dengan harga sangat terjangkau, yaitu:
- Rp3.000,
- Rp5.000,
- Rp10.000, dan
- Rp40.000 per kilogram.
Untuk pemasarannya, produk ini telah menjangkau berbagai sekolah dan kantin di luar wilayah Kecamatan Samarang, membuktikan bahwa kualitas rasa dan kemasan dari kerupuk ini cukup bersaing.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski usahanya berjalan dengan baik, Ibu Ai tetap menghadapi beberapa kendala. Salah satunya adalah ketersediaan bahan baku singkong yang kadang sulit diperoleh. Selain itu, cuaca hujan sering mengganggu proses penjemuran kerupuk sebelum digoreng.
Namun demikian, semangat Ibu Ai tidak surut. Ia berharap usahanya dapat terus berkembang, maju, dan bisa menjadi peluang usaha bagi warga sekitar, terutama ibu-ibu di Desa Tanjungkarya.
Bagi Anda yang ingin mendukung produk lokal sekaligus menikmati camilan lezat ini, silakan hubungi langsung Ibu Ai Eli di WA: 0813-1011-9663.